Rabu, 03 April 2013

Zoo Family ~Power of Love~ Part 2'-')/


“Oppa..” Ara menahan Kyuhae yang sudah berdiri dan ingin masuk. “Aku takut terjadi sesuatu..”Sambung Ara lirih.

“Gwenchana Ara-yaa.. Apapun yang buruk aku yakin tidak terjadi.” Sahut Kyuhae menenangkan yeodongsaengnya ini.

“Ne oppa.. Arraseo!”Kyuhae dan Ara pun menyusul yang lainnya yang sudah masuk ke kamar masing-masing.


-skip-

           Pagi harinya semua orang terlihat sangat sibuk. Halmoni dan Jieun sibuk menyiapkan makanan, Hoya dan Wookie menyiapkan api di tungku, Halboji memberi makan Zoolu, Kyuhae menimba air, Minri menyapu halaman, dan Seulra sibuk merapikan tanaman-tanaman di sana. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh, siapa lagi kalau bukan Hyunsoo yang baru keluar dari hanok. Namja ini berlari seperti kuda lagi nyari WC umum(?).

“Yakkk!!!!! SIAPA DI DALAM!!!” Hyunsoo berteriak menggedor pintu kamar mandi yang sudah reot itu.

“NANEUN!!! Waeyo hyung?!” Sahut monyet.. *ehh- --skip ulang--  Sahut manusia dari dalam kamar mandi itu.

“Ara-yaa.. Jebal palliwa!!! Euuugghhkkkk...” Muka Hyunsoo memerah menahan sesuatu(?) yang tidak pernah terduga kehadirannya.

“Aigooo hyung!!! Aku masih mandi!!!! Kau lebih baik pergi ke kebun belakang, buat saja JAMBAN(?) darurat di sana! Saat ini aku tidak mungkin keluar secepat yang kau harapkan!” Dengan santainya Ara memijat kepalanya yang masih penuh busa.

“YAAKK!!!!! JINJJAAA!!!!!! TUHANN... kenapa kau memberikan aku cobaan yang cukup berat pagi ini?!” Hyunsoo berdoa dengan sedihnya menahan pup yang sudah diujung jalan(?). “Ahhhhkkkk...” Hyunsoo berlari secepat kilat menuju kebun belakang.

“Eohh... Eomma, untuk pertama dan terakhir aku bertanya. Sewaktu eomma hamil Hyunsoo dan Ara eomma ngidam apa sih?!” Minri menghentikan aktifitasnya sebentar.

“Seingat eomma, waktu hamil Hyunsoo eomma ngidam tokek rebus(?) dan waktu hamil Ara eomma ngidam pepes cicak(?).” Jawab Jieun santai.

“MWO??!!!” Ketiga anaknya kaget seperti mendengar halilintar yang cetarrr-membahana-badai-topan-tsunami-gempa-bumi gonjang ganjing! *abaikan!*.

“Pantas saja mereka berdua seperti itu. Lalu? Bagaimana dengan kami?!” Tanya Kyuhae. Kedua noonanya HHC.

“Kalian?! Eomma kalian tidak menginginkan hal-hal yang aneh seperti Hyunsoo dan Ara. Tapi, appa kalian menjadi korban saat jam 1 malam harus mencari buah Durian dan Melon” Jelas Hoya dan Wookie menganggukkan kepalanya.

“Eohh.. itu sih derita Appa laa yaw!” ledek Seulra puas.

“Aisshhh... dasar kau Seulra!” Halboji tiba-tiba datang dan memukul kepala Seulra dengan kipasnya.

“Bukan appa yang memukul mu chagiyaa..” Ledek Hoya dan Wookie serentak. Seulra memasang wajah manyunnya. Akhirnya, Zoolu tertawa puas(?)

“Yakk!! Apa yang kalian bicarakan?!” Ara menghampiri mereka semua. Hyunsoo juga datang, sepertinya dia sudah selesai membuat dan menggunakan jamban karyanya sendiri.

*Pleetaakkk* Jitakan halus mendarat di kepala Ara.

“Yaaikkss!! Appoyo!!!” pekiknya mengelus kepalanya. Ternyata pelakunya adalah Hyunsoo.

“Hehe mianhae!” Hyunsoo hanya cengengesan tak jelas. Karena emosi sudah memuncah Ara tiba-tba melompat.

“Ciaaaaatttt..” Ara mendarat tepat di sebelah Hyunsoo, dia jambak rambut namja itu, dia pites-pites.

“Yaakkk!!!” Tak mau kalah Hyunsoo menggelitiki Ara. Titik kelemahan yeoja ini.

“Aaaaaa.... Hyung!!!!!” Ara berlari ke arah Halboji minta perlindungan. Untung halboji berbaik hati melindungi Ara sehingga Hyunso mengurungkan niatnya. Tapi.. karena terlalu baik.. Halboji mendaratkan kipasnya di kepala kedua cucunya ini. Lagi dan lagi.. Zoolu ngakak sampe guling-guling masa’-‘)/

-skip-

“Ara-yaa!! Palli!!!” Teriak Hyunsoo, nada suaranya tidak terdengar seperti orang marah.

“Nde hyung!!” sahut Ara dari dalam sana.

“Tadi saja perang!” Seulra sepertinya menyindir Hyunsoo yang berdiri antara mereka. Kyuhae dan Minri menahan tawanya.

“Wae?! Apa ada yang ganjal?!” Tanya Ara yang baru datang dan Hyunsoo hanya mendengus kesal ke arah Seulra.

“Mwo?” Seulra tetep tidak berhenti meledek Hyunsoo, ya karna itu hoby yang paling menyenangkan katanya.

“Aniyaa saengi..” Jawab Hyunsoo sok malaikat. “Kajja! Kita pergi sekarang! Kami pergi!!!” Hyunsoo sedikit mengeraskan suaraya pamit kepada eomma dan para tetua di sana.

“Hati-hati!! Kalian cepatlah kembali!!” Sahut eomma dan halmoni.

“Ndee!!!” Mereka pun keluar dari perkarangan rumah itu.

           Seperti biasa Ara sibuk mengabadikan momen-momen ini. Jepret sana-sini, tidak hanya mereka tapi juga siput di foto sama Ara. Tapi saat Ara berjalan tergesa menyusul yang lainnya yang sudah berjalan di depan sana, tiba-tiba saja ada yang menabraknya sehingga Ara terjatuh. Ternyata seorang namja, tapi dia memakai cuping yang lebar, sehingga kerna sinar matahari wajahnya tidak kelihatan. Namja tersebut membantu Ara bersdiri dan berkali-kali mengatakan maaf. Setelah itu, dia berjalan tergesa seperti mengejar sesuatu.

“Juisunghabnida ahgassi..”

“Aneh! Sepertinya aku pernah melihatnya. Keunde.. eodiseo?!” Ara bergumam sedirian. Dia sadar kalau dia sudah di tinggal yang lainya. “Yakk!! Tunggu aku!!!” teriak Ara melupakan namja asing tadi.


“Yakk! Kenapa kalian meninggalkan ku?!” Ara memasang muka bete+galau nya.

“Aniya.. tidak ada yang meninggalkanmu. Kau saja yang jalannya lamban.” Jawab Minri santai. “Yakk! Cepat ambil foto kami! Selagi kita di hutan pinus ini!” sambung Minri memerintah Ara.

“Arraseo!”


           Mereka sudah jalan cukup dalam di hutan pinus itu. Matahari juga mulai hilang. Pastinya, hari makin gelap. Sepertinya mereka tersesat. Seulra dan Minri memasang wajah ketakutan.

“Yaa!!! Kita sudah sangat jauh berjalan.. hari sudah hampir malam. Ayo kita pulang!” Seulra mulai takut dengan keadaan di sekelilingnya.

“Kajja!” Sahut Hyunso dan Minri serentak. Tapi Seulra, Kyuhae, dan Ara hanya diam mematung.

“Hyung.. sepertinya kita tersesat!” kali ini Kyuhae bicara dengan nada yang sangat pelan.

“Aigooo ottokhae?! Harinya makin gelap” Minri dan Seulra saling merangkul satu sama lain.

           Ara mengeluarkan 2 senter dari tasnya. Hyunsoo dan Kyuhae mengeluarkan ponsel, tapi sayang tidak terjangkau signal di sana, sehingga mereka tidak bisa menghubungi para tetua. Hyunsoo dan Kyuhae memberi aba-aba untuk jalan melalui jalan mereka tadi. Tapi karna ini hutan pinus, mereka rasa mereka hanya berputar-putar di situ saja.

“Aku lelah dan juga lapar..” Minri dan seulra terduduk lemas.

“Ige..” Kyuhae mengeluarkan 5 bungkus roti yang dia bawa.

“Sekarang satu-satunya cara adalah kita harus cari tempat aman untuk mendirikan tenda. Malam ini kita tidur di sini.” Ara mengambil keputusan. Dan dia menyenter sekelilingnya. “Di sana! Sepertinya bagus untuk membangun tenda!” Ara memakan rotinya sambil berjalan ke tempat yang dia maksud.

“Hyunsoo hyung, Kyuhae oppa bantu aku!” Printah sang magnae kece ini.

“Yakk!!! Bagaimana bisa kau mempersiap kan ini saeng?!” Tanya Seulra yang heran.

“Tadinya aku hana iseng membawa ini. Tapi ternyata, ini benar-benar di butuhkan.” Jawab Ara sambil mendirikan tenda.

“Tapi bagaimana kalau ada hewan buas?!” Seulra masih tidak yakin dengan keputusan Ara. Ara berjalan mengambil sesuatu dari tasnya.

“Ini! Taburkan garam ini di sekeliling wilayah kita!” jawab Ara menyuruh Seulra dan Minri menaburkan garam.

“Hyunsoo hyung kau buat api unggun ne! Pakai saja ranting-ranting di sana!” Ara menyuruh Hyunsoo, sepertinya magnae jadi komandan-__-“

“Ada manfaatnya juga kau menjadi ketua regu saat camp kemarin!” cetuk Kyuhae yang masih membantu Ara mendirikan tenda.

“Nde. Untung saja aku tidak seperti mereka yang sibuk dengan urusan entertaint masing-masing!” jelas Ara. “Jja! Finished!! Oppa.. apa kau bawa persediaan makanan yang cukup?! Selimut juga, apa kau membawanya?!” tanya Ara.

“Sepertinya semua juga membawa barang-barang itu.” Jawab Kyuhae.

“Great! Tas ku tidak muat jika harus membawa semuanya. Aku hanya membawa alat-alat siaga.. hihi..” Ara terkekeh sendiri. Yapp! Dia merasa prediksi kekhawatirannya terbukti.


           Di dalam hanok yang terbilang cukup besar ini, Jieun mondar-mandir menunggu kelima anaknya. Hoya dan Wookie berusaha menghubungi semua ponsel mereka, tapi yang jawab malah mba-mba operatornya. Halboji dan Halmoni turut resah dan terus melihat jam.

“Aigooo.. kenapam selarut ini mereka belum pulang?!” kata halmoni dengan nada resah dan gelisah menunggu di sini *ini kenapa jadi ngelagu’-‘?)*

“Ottokhae?! Aku takut terjadi sesuatu pada mereka.” Jieun mulai menangis dan terjatuh di depan halmoni. Halmoni langsung menenangkan Jieun.


           Kembali ke hutan(?). Ara masih terjaga di depan api unggung. Sesekali dia melihat ke dalam tenda, melihat satu persatu makhluk(?) yang di sayanginya itu. Karena merasa sepi Ara bernyanyi sendiri.

Shining Star! like a little diamond, makes me love..
Naegen kkoomgyeolgateun dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo..
Hangsang hamkke halgeora till the end of time..

Oh! Day by Day..
Hangsang nae gyeote..
Geudaega meomoolleo jweo..
Stay in my heart noonbooshin Shining my love..

Neul barago ijjyo hangsang geogieseo wooseumjitgireul..
Ddeut moreul ohaewa iyoo eobneun miwoome himi deureodo..
Deo meon goseul bwayo ije shijakijyo woolgo shipeul ddaen naege gidaeyo..
Boojokhajiman geudael jikilgeyo..
Sarangeun geureohke, cheoeum soonganbooteo chajawa..
gajang gipeun gose narawa nal ddeugeopge hae..
Byeonhaji anhneun ddeollim geudaeneun..

Shining Star! like a little diamond, makes me love..
Naegen kkoomgyeolgateun dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo..
Hangsang hamkke halgeora till the end of time.. “

           Belum habis Ara bernyanyi, Kyuhae duduk di sebelahnya. Menutupi punggung Ara dengan selimut yang dia bawa.

“Ohh.. oppa! Kau belum tidur?!”

“Dari tadi aku tidak bisa tidur. Kau juga kenapa bernyanyi sendirian?!”

“Ohh.. apa suara ku mengerikan?! Mian!” Ara menundukkan kepalanya.

“Waeyo?!” Kyuhae melihat raut wajah Ara yang berubah.

“Geunyang... aku memikirkan mimpi ku semalam! Sangat buruk!” Jawab Ara menatap kosong ke depan.

“Seburuk itu kan?!”

“Nde.. tapi semoga akhir mimpi itu tidak terjadi!”

“Mwoya?!”

“Ahh.. Anida!! Jja kita tidur! besok kita harus siap-siap mencari jalan keluar..” Ara bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam tenda.

“ssshhh... Dasar monyet aneh!” gumam Kyuhae terkekeh dan ikut masuk ke dalam tenda.


           Esok paginya, Mereka berlima sarapan dengan bekal ala kadarnya. Setekah sarapan mereka merapikan tempat dan tenda mereka gulung kembali. Berjalan meneusuri hutan yang tak di temukan ujungnya ini. Berjam-jam mereka jalan, Minri menemukan sebuah rumah yang sepertinya masih berpenghuni.
           Di hanok milik Halboji, para tetua masih heboh memikirkan keadaan kelima anak itu. Sudah berkeliling desa bertanya kesana-kemari membawa alamat *ehh kan ngawur –skip ulang— membawa foto anak-anak ini. Jieun terus menangis melihat situasi ini. Wookie melapor kepada pihak polisi daerah. Hoya dengan keterampilannya mencoba melacak keberadaan anak-anaknya melalui signal ponsel mereka. Tapi karena posel kelimanya mati, usaha Hoya pun jadi sia-sia. Kembali ke hutan. Kyuhae melihat jam tangannya ternyata sudah jam 18.30.

“Yakk!!! Itu ada rumah!!” Minri menunjuk ke sebuah rumah yang bisa di bilang cukup besar di tengah hutan seperti ini.

“Geure.. Ayo kita ke sana!” Ajak Hyunsoo. Sampainya di rumah itu, Hyunsoo mengetok pintunya. Tak berapa lama pintunya pun terbuka.

“Annyeong haseo..” mereka berlima membungkukkan badan melihat seorang namja yang kira-kira usianya sebaya dengan Minri. Berwajah tampan, berbadan tinggi dan cukup kekar.

“Ohh.. Lee Yuan?!” cetuk Minri ketika dia melihat namja itu.

“Minri?! Kenapa kau bisa ke mari?!” tanya namja yang bernama Yuan walaupun wajahnya kelihatan gugup. Gugup karena bingung dengan kehadiran mereka atau gugup karena hal lain.

“Juisunghabnida.. kami sebenarnya tersesat dari hutan pinus hingga ke mari..” Jelas Hyunsoo. “kalau boleh kami ingin menumpang di sini selama semalam. Atau kau bisa langsung mengantar kami ke desa sekarang.” Sambung Hyunsoo lagi.

“kalau ingin kembali ke desa memakan waktu dua jam lebih dari sini. Lebih baik kalian tinggal di sini dulu, besok pagi saja kalian aku antar.” Jawab Yuan dan mempersilahkan mereka masuk.

“Kamsahamnida..” mereka berlima kembali membungkuk berterima kasih. Di sisi lain Ara seperti memikirkan sesuatu.

           Mereka makan malam bersama. Setelah itu mereka tidur di sebuah kamar yang di sediakan Yuan. Kata Yuan hanya ini kamar yang layak mereka tempati untuk malam ini. Yuan keluar dari kamar mereka, meninggalkan lima kakak beradik ini di kamar itu.

“Kenapa tidak ada kamar mandinya?!” Minri mengelilingi kamar itu.

“Waeyo?! Kau ingin buang air eon?!” Tanya Ara.

“Anida.. Tapi bagaimana kalau nanti ada yang kebelet?!” kata Minri memasang muka innocentnya.

“Tenang.. pas di hutan tadi aku sudah mengeluarkannya..” dengan santainya Hyunsoo menjawab.

“Aisshh.. Kau ini!” Seulra menjitak kepala Hyunsoo. Karena lelah namja itu hanya mendengus kesal.

           Ara menemukan colokan listrik dibalik tempat tidur. Dia men-charge tab-nya, dia menggunakan tablet karena dia hanya membawa charge tabnya saja. Dia nyalakan tab-nya dan ternyata dia mendapat signal.  Dengan cepat dia mengirimkan email kepada Hoya. Isinya kalau mereka berlima baik-baik saja. Ara tahu pasti orang tuanya sangat khawati pada mereka semua.
           Di hanok halboji. Hoya membuka ponselnya yang baru mendapat email masuk. Hoya langsung memanggil semua penghuni hanok tersebut. Terdengar suara gadu yang berasal dari hentakan kaki mereka yang menuju ke ruang tv di sana.

“Aku mendapat email dari Ara!” Kata Hoya yang dimatanya sudah seperti danau.

“Oppa ayo buka! Palli!!!” Suruh Jieun yang sudah menangis di rangkulan Wookie.

“Ne.. Palli..” Tambah Wookie. Hoya pun membuka email tersebut dan membacakannya.


Hoya appa, Wookie appa, Jieun eomma, halboji dan halmoni..,
Mianhae baru mengabari kalian sekarang..

Kami tersesat di hutan. Tapi kalian tidak perlu khawatir..
Tadi sore kami menemukan sebuah rumah di sini. Ternyata pemiliknya teman Minri eonnie, namanya Lee Yuan. Namja itu baik tapi menurut Ara dia sangat aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu. Rumah ini juga sangat aneh. Sebuah rumah ditengah hutan, apa namja itu tidak takut di sini?! Ara lihat dia juga tinggal sendiri. Dia bilang orang tuanya di luar negeri. Mana ada orang tua meninggalkan anaknya sendirian di hutan. Aneh!!


Sekarang yang lainnya sedang tidur. Hanya Ara yang masih terjaga karena masih kepikiran apa yang akan terjadi dan memikirkan kekhawatiran kalian pada kami..


Hoya appa dan yang lainnya..
Mungkin besok kami akan kembali. Tapi ntah kenapa Ara tidak yakin kalau besok kami cepat kembali. Jika besok kami belum kembali doakan kami ne. Mungkin hal yang Ara takutkan akan terjadi..
Semoga itu tidak benar-benar terjadi. Ara takut appa. Kejadian seperti ini saja sudah Ara mimpikan kemarin, tapi Ara hanya menganggapnya mimpi biasa..

Hoya appa, bisakah appa mencari tahu siapa itu Lee Yuan?! Ara tidak yakin dia benar-benar baik menolong kami. Kenapa Minri eon bisa sebodoh itu mengenalnya?!

Ahh Appa..
Sudah dulu ne. Ara sudah mulai lelah..
Besok jika signal bagus seperti ini, Ara akan mengirim email lagi..
Appa dan yang lainnya bantu kami keluar dari sini dengan doa..
Oke! Jaljayo!!^^

           Hoya membacakan isi email Ara dengan menahan tangisnya. Tangis Jieun da hlmoni semakin menjadi-jadi. Hoya tidak mau berlama-lama dan langsung mencari identitas Lee Yuan. Hoya tiba-tiba terkejut setelah membaca sesuatu yang dia dapat dari penelusurannya di internet.

“Wae?!” Tanya Wookie yang melihat ekspresi Hoya yang berubah itu.

“Hyung.. Ayo berdoa supaya mereka tidak kenapa-kenapa..” Kalimat itu yang terlontar dari mulut Hoya. Semua mata shock dan mengeluarkan air.



           Tengah malam Seulra bangun karena kebelet buang air. Dia membangunkan Minri karena hanya Minri yang gampang untuk di bangunkan. Minri pun bangun dan membantu Seulra mencari toilet. Tapi saat pintu yang belum mereka buka, di buka Minri tiba-tiba. Mereka berdua kaget. Melihat Yuan duduk dengan 3 orang pria yang badannya seperti bodyguard itu. Minri dan Seulra takut melihat cara Yuan menatap mereka.

“Waeyo Minri-ssi?” Tanya Yuan menyunggingkan senyumnya. Senyum yang penuh dengan kelicikan.

“A.. Aniyaa... Kami hanya mencari toilet..” Jawab Minri berusaha santai tapi suaranya bergetar.

“Mari biar aku antar..” Yuan mengantar mereka berdua ke toilet. Karna takut mereka berdua masuk bersama. Saat mereka keluar mereka tidak melihat seorang pun. Namun, ternyata mereka berdua di bekap sampai pingsan. Dan di bawa ke ruangan tadi.

           Ara terbangun, dengan mata yang masih separuh terbuka Ara tidak melihat Minri dan Seulra tidak ada di tempatnya. Dia membangunkan Kyuhae dan Hyunsoo.kyuhae tebangun tapi masih setangah sadar. Sedangkan Hyunsoo malah menigau tak karuan.

“Hyung.. Oppa.. Ironaa!! Ke mana Minri dan Seulra eon?!” tanya Ara dengan suara yang pelan.

“mungkin mereka ke toilet..” jawab Hyunsoo menggeliatkan badannya.

“Aiisshh.. Oppa! Ottokhae?” Ara menatap Kyuhae dalam.

“Mungkin memang mereka ke toilet.. Jja! Kita lihat..” jawab Kyuhae berusaha menenangkan Ara.

           Saat mereka berdua keluar kamar, mereka mendengar suara tangis yeoja dan suara tawa beberapa orang pria. Kyuhae dan Ara langsung bergegas masuk ke kamar mereka.

“Oppa.. ottokhae? Bagaimana jika terjadi sesuatu..” Ara mulai terisak, tapi suaranya kedengaran sangat kecil.

“Yakk! Jangan berpikiran buruk. Sekarang kita harus keluar dari sini. Mencari tempat aman untuk memikirkan cara membaskan mereka.” Jelas Kyuhae dan menyuruh Ara merapikan barang-barang mereka. Kyuhae pun membangunkan Hyunsoo.

“Hyung.. Irona.. jebal Hyung!!!” Kyuhae mengguncang tubuh Hyunsoo dan begitu Hyunsoo bangun dia langsung menutup mulut hyungnya sebelum Hyunsoo mengoceh. “Kita harus keluar dari sini sekarang! Nanti akan kami jelaskan!” kata Kyuhae. Tidak tahu apa-apa Hyunsoo hanya mengikuti saja. Merima tasnya yang Ara kasih.

           Kyuhae membuka jendela dan melihat situasi, lalu melompat yang kemudian di susul Ara dan Hyunsoo. Mereka lari masuk ke hutan. Merasa sudah cukup jauh mereka berhenti. Tersadar bahwa mereka hanya bertiga, Hyunsoo pun sontak bertanya. Kyuhae dan Ara menjelsakan semuanya ada Hyunsoo.

“Oke! Kita harus bertindak! Ara mana tab mu?!” Ara mengeluarkan tabnya. “aish.. tidak ada signal!” Hyunsoo mengacak rambutnya frustasi dan Ara mengambil tabnya kembali. “Kyuhae, apa kau bawa alat tulis?” pinta Hyunsoo dan Kyuhae mengeluarkan bebarapa kertas dan pena.

           Hyunsoo memberi arahan pada dua dongsaengnya itu dan mencoretkannya di atas kertas itu. Ara dan Kyuhae menyimaknya dengan baik. Sesekali mereka memberi tambahan jika mereka merasa itu ganjal. Setelah selesai melakukan diskusi penting itu, mereka memutuskan istirahat di situ juga. Karena mereka juga lelah dan besok mereka harus bangun pagi sekali untuk mengawasi rumah aneh itu.

           Minri dan Seulra tersadar dari obat bius mereka. Melihat sekeliling mereka yang banyak dus dia atas rak-rak dan jerigen serta tong yang berisi bahan kimia. Ternyata zat-zat itu untuk membuat berbagai obat terlarang. Dengan tangan dan kaki yang masih terikat mereka mendekatkan diri satu sama lain.

“Yaa.. Ottokhae?! Bagaimana dengan mereka” Minri ketakutan dan suaranya terdengar sangat pelan. Mereka berdua sadar kalau mereka teriak maka Yuan dan penjahat itu akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Gwenchana.. aku yakin mereka sekarang jauh dari sini. Di suatu tempat untuk memikirkan cara menangkap pernjahat itu dan membebaskan kita..” Jawab Seulra yang tetap berusaha senyum. Dia berusaha agar Minri tetap tenang, walaupun sebenarnya dia juga sangat takut jika terjadi sesuatu.
“Bagaimana kau tau?!” tanya Minri heran. Dan seulara melihat ke arah pintu yang terbuka. Ternyata Yuan masuk kedalam ruangan itu.

“Minri dan Seulra, di mana mereka?!” Yuan menaikkan volume suaranya.

“Molla!” sahut Seulra dingin. *parrr* Yuan menampar Seulra saat itu juga. Seulra sangat benci jika ada orang yang kasar padanya. Minri yang melihat itu hanya bisa diam mematung.

“YAAAA!!! LEE YUAN!!!! NEO MBOYA?!” pekik Seulra yang sudah sangat marah. Mata merah dan rambutnya yang mulai acak-acakan semakin jelas memperlihatkan kemarahannya.

“Nan?! Lee Yuan imnida. Putra tunggal ketua organisasi Naga hitam, Lee Changhong. Pengedar narkoba  yang paling dicari di asia!” Jawab Yuan santai dengan aura setan di sekitarnya.

“Neo, taehanminguk saram aniya?!” cetuk Minri.

“Uri taehanminguk saram. Keunde, uri halboji jonguk saram.” Jelas Yuan kali ini lebih biasa.

“Yaa!!! Yuan-sshi.. Nan arra, neo joheun saramiya.. Jebal, lepaskan kami!” Minri mengeluarkan air matanya. Seulra tak tahan melihat Minri menangis.

“Yaa!! Tak ada gunanya kau memohon sampai menangis gitu Minri-yaa.. Jika makhluk ini baik, dia tidak akan mungkin menyekap temannya sendiri!” Sahut Seulra menatap Yuan tajam.

“Kau benar! Lalu bagaimana dengan saudara mu yang lainnya?! Apakah kalian yakin mereka akan menyelematkan kalian?!” Yuan benar-benar dingin menanggapi kedua yeoja ini.

“Nan oppa-rang dongsaeng-rang mido! You don’t know anything about them!” mata Seulra terbelalak lebar, air matanya juga mulai menetes. Minri masih terisak memikirkan nasib mereka.

“Jinjja?! Are you sure? Joa, kita lihat saja nanti!” Yuan mendekatkan wajahnya kepada Seulra dan menatapnya tajam. Karena Seulra terlanjur membencinya dia membalas tatapan itu jauh lebih dalam, seperti menantang namja di depannya.

           Ara terbangun dari tidurnya, padahal dia baru tidur 20 menit. Dia mengingat semua kejadian yang baru terjadi. Mengingat wajah Yuan saat menerima kehadiran mereka. Seketika dia teringat sesuatu dan mengeluarkan tabnya. Ara terhentak ketika dia memperbesar foto mereka yang saat itu tak sengaja terambil gambar namja asing. Namja itu ternyata Yuan. Dia juga orang yang tak sengaja bertabrakan dengan Ara saat di pinggir sawah. Ara berpikir bagaimana Minri bisa mengenal Yuan? Hal ini harus benar-benar di selidiki. Ternyata Hyunsoo juga terbangun dari tidurnya. Dia melihat Ara yang memperhatikan tabnya frustasi.

“Ara-yaa.. Gwenchana?!”

“Ohh hyung.. Kau ingat namja asing di foto ini?! Look!” Ara men-zoom foto itu. Hyunsoo terbelalak melihat namja di dalam foto itu.

“Lee Yuan?!” Hyunsoo terheran. Ara menceritakan semua kejadian saat dia dan Yuan tak sengaja bertemu. Ara juga bertanya pada Hyunsoo bagaimana Minri mengenal Yuan sampai sedekat itu. Padahal mereka juga baru 4 hari di desa itu.

“Ahh.. Ntahlaa.. Tapi dua hari yang lalu saat kita hanya diam di hanok Minri di menemani Halmoni belanja. Apa mungkin saat itu dia bertemu dengan Yuan?!” Hyunsoo bergumam sendirian. Ara hanya melihat wajah Hyungnya yang sudah kelihatan sangat lelah.

“Hyung.. kau tidurlah! Wajahmu sudah sangat lelah..” Kata Ara lirih.

“Geure! Aku juga sudah ngantuk.. kau apa tidak tidur?!” Tanya Hyunsoo melihat Ara yang sedang memandang kosong ke arahnya.

“Eoh?! Aku akan tidur jika aku ngantuk..” jawab Ara.

“Aiisss... ini sudah larut malam, dan jangan bilang kau belum ngantuk! Amdwae!! Jja! biar ku antar kau ke mimpi paling indah..” cerosos Hyunsoo dengan gaya sok keibuan *ehh.. perhatian maksudnya.

“Aisshh...” Ara mengikut saja apa yang di bilang kakaknya ini. Ara berbaring di antara Hyunsoo dan Kyuhae.

“Ara-yaa.. Mianhae..” suara Hyunsoo terdengar pelan.

“mwo?!Yakk!! Hyunsoo!! Kau menangis?! Aigooo...” Ara menyampingkan badannya dan berusaha tetap tertawa melihat Hyunsoo yang sudah menundukkan wajahnya, walaupun sebenarnya dia juga meneteskan air mata *ini sedih woyy!!! Sedih!!*. “Hyung-aaa.. Gwenchana.. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan..” Kali ini Ara memeluk kakaknya itu. “Eomma, Wookie appa, Hoya appa, Minri eonnie, Seulra eonnie, Kyuhae oppa, haraboji, halmoni, kau dan aku, kita semua saling sayang hyung.. Mungkin pertengkaran dan perbedaan pendapat kita selama ini hanya sebagian kecil rasa sayang itu. Kita semua sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi aku tahu kta semua saling menyempatkan waktu untuk berkumpul. Neo arra?! Saat aku camp dengan Kyuhae oppa dan teman-teman sekelas kami waktu itu, aku merasa benar-benar ingin pulang. Aku rindu omelan Minri dan Seulra eom saat aku mengedit foto mereka menjadi sangat aneh, aku rindu appa dan eomma, aku juga rindu ocehanmu yang selalu membully kami! Hyung... sudahlaa, kejadian ini bisa kita lewati bersama. Kau jangan sedih seperti itu, mungkin tuhan sedang ngetest kita seberapa kuat kedekatan kita. Dan kita harus saling menguatkan! Saat ini tidak ada yang boleh menangis!” Hyunsoo menaikkan wajahnya, saat yang sama Ara menghapus air mata kakaknya itu.

“Gomawo saengii... Yaa! tapi kau juga menangis..” Hyunsoo terkekeh sambil menghapus sungai kecil di pipi adiknya.

“Eo?! Aku tidak menangis hyung.. ini namanya terharu!” jelas Ara. “Jja! Kita tidur, sepertinya hantu hutan ini merasuki ku tadi!” canda Ara dan membaringkan badanya. Hyunsoo pun tersenyum melihat kedua dongsaengnya tertidur.

TBC
Apakah yang akan terjadi dengan mereka semua?!
Tunggu part selanjutnya:D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar